Remaja Modern di Era Globalisasi

Memasuki era baru di tahun 2010, telah menghadang di depan mata kita berjuta rintangan dan tantangan besar yang mampu menghalangi laju kembang bangsa ini khususnya para pemuda Indonesia. Jika tak disikapi secara bijak dan tak dipersiapkan secara baik dan matang, bisa jadi kita akan terseret ganasnya arus globalisasi.

Tantangan hidup remaja dunia saat ini dan yang akan datang tiada lain, yakni globalisasi. Globalisasi itu sendiri merupakan sebuah fase ketika kita akan dihadapkan pada sebuah kenyataan munculnya kebudayaan baru (new culture), yaitu budaya Dunia –bukan budaya Indonesia atau Amerika–.  Di sana, tidak ada lagi batas-batas yang signifikan di antara satu negara dengan negara lain, suatu daerah dengan daerah lain, ataupun suatu benua dengan benua lain. Di zaman global tersebut, tidak ada batas-batas ideologi dan agama, semuanya berinteraksi secara harmonis dan tanpa mempermasalahkan saya berideologi apa? Anda berideologi apa? Oleh karena itu, interaksi dan pergaulan para remaja pada abad global ini menjadi sangat terbuka atau tanpa batas. Mau tidak mau, sasaran empuk dari globalisasi ini adalah remaja dan para pemuda.

Berbicara tentang pemuda masa kini, saya sedikit mengutip wacana dari sebuah buku yang pernah saya baca. Berikut isi wacananya.

“Para pemuda pada mulanya merupakan harapan dan kekayaan umat ini, generasi masa depan yang bersinar, musim semi yang sangat indah, denyut jantung yang selalu berdetak, serta pagar pelindung bagi umat dan dan bangsa ini dari terpaan angin yang angkuh dan hantaman arus yang menghanyutkan. Namun setelah mereka berpaling dari jalan kebaikan, maka terjatuhlah mereka ke dalam lumpur obat-obat bius dan terbuang sia-sialah kekayaan yang berharga tersebut. Hingga harapan masa depan itu menjadi sesuatu yang hadir penuh dengan keburukan, layu mengeringlah bunga-bunga yang mulai merekah kemudian berguguran, berhentilah jantung dari detak denyutnya dan pagar pelindung pun rapuh terkoyak. Maka angin badai dan arus pun melanda hingga hanyut bersamanya pemikiran-pemikiran yang menggiring mereka ke dalam neraka Hawiyah.”

Itulah isi kutipan wacana yang dimuat dan diungkapkan secara gamblang dalam sebuah buku karya Salim al-‘Ajmi yang berjudul Wahai Pemuda Kemana Tujuan Hidupmu???

Mari sejenak kita renungkan makna yang terkandung dalam kutipan wacana di atas. Betapa dalam dan luas makna yang terkandung di dalamnya. Apalagi jika mengaitkannya dengan keadaan para pemuda masa kini. Sungguh, jika kita mau jujur mengakui kenyataan pahit yang sedang menimpa generasi muda bangsa saat ini, tentu hati kecil kita akan bertanya-tanya. Mengapa ini bisa terjadi? Sudah menjadi konsumsi publik, bahwa bangsa Indonesia belum bisa dikatakan dewasa dalam menghadapi suatu permasalahan. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan orang-orang kita yang seringkali saling tuding mencari siapa yang salah. Jelas ini bukan merupakan jalan penyelesaian dari suatu permasalahan. Ibarat pepatah mengatakan, nasi telah menjadi bubur. Semuanya telah terjadi. Satu hal yang harus selalu kita ingat bahwa segala yang terjadi hari ini maupun yang  akan terjadi esok hari, merupakan hasil yang akan kita petik dari apa yang telah kita tanam di masa lalu.

Kembali pada objek permasalahan, sebagai tindak lanjut menyikapi keadaan kaum muda saat ini, saya ingin sedikit berbagi pengetahuan tentang siapa itu pemuda atau lebih spesifik kepada remaja. Mudah-mudahan ini bisa dijadikan salah satu terobosan bagi seluruh lapisan masyarakat dalam upayanya mengenali dan memahami serta diharapkan mampu menyikapi secara jernih dan tanggap terhadap perilaku yang umum dan ada pada tiap-tiap diri remaja. Berikut ini pemaparan lengkapnya.

Pada tanggal 12-13 September 2009 lalu, Mitra Citra Remaja (MCR) – PKBI Cirebon menggelar kegiatan Training Peer Educator Remaja Usia  16-24 tahun di Asrama Haji Watubelah Cirebon. Dalam training ini saya banyak mendapat informasi baru seputar dunia remaja dan lika-liku kehidupannya. Dijelaskan bahwa definisi remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa.

Nah, adapun perilaku yang umum dimiliki tiap remaja juga dijelaskan dalam kesempatan yang sama ada 5 macam. Pertama, Remaja itu berani, tetapi sering kurang perhitungan. Kedua, pada hakikatnya tiap remaja ingin hidup bebas, walaupun sebenarnya belum punya kemampuan untuk mandiri. Ketiga, remaja selalu ingin tampil beda dalam rangka pencarian dan pengembangan jati dirinya, walaupun kadangkala sering berakhir dengan persaingan yang tak sehat. Keempat, remaja memiliki sikap optimis, namun seringkali dibayang-bayangi perasaan cemas, sensitif dan mudah tersinggung. Terakhir, remaja tergolong cepat dan mudah dalam menerima informasi, namun seringkali dapat mencelakakan dirinya sendiri.

Mungkin itulah bagian kecil pengetahuan tentang remaja. Sedikit informasi yang bisa saya sampaikan, mudah-mudahan dapat memotivasi para pembaca untuk terus mencari dan menggali informasi tambahan dalam rangka demi memberikan kenyamanan bagi para pemuda termasuk remaja di dalamnya, dalam menjalani masa-masa sulit yang sedang dihadapinya.

Dorongan dan motivasi serta perhatian yang lebih, agaknya perlu lebih intensif dicurahkan pada generasi muda kita agar mampu berkembang ke arah yang optimal dan mampu menjawab kebutuhan bangsa Indonesia di era globalisasi, yaitu lahirnya remaja modern yang unggul dalam ilmu dan anggun dalam akhlak. Remaja yang dapat membedakan mana yang mesti dilakukan dan mana yang tidak. Remaja yang dapat membedakan zaman dulu dengan zaman sekarang. Remaja yang dapat membedakan nilai-nilai baik dan buruk, lalu memilihnya secara baik dan benar. Remaja yang dapat membedakan mana nilai lama yang mesti ditinggalkan dan mana nilai lama yang harus tetap dipertahankan. Remaja yang dapat membedakan nilai-nilai kekinian mana yang baik dan tidak. Remaja yang dapat mempertimbangkan keseimbangan hidupnya. Remaja yang dapat mengikuti ritme kehidupan (kapan pun dan dimana pun), namun tetap menjadi dirinya sendiri karena selalu berpegang teguh pada al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Itulah perspektif remaja modern yang kita harapkan.

Saya yakin harapan ini akan dapat diwujudkan di masa mendatang melalui peran serta kita semua yang peduli akan masa depan pemuda dan bangsa Indonesia.Untuk itu, mari kita jadikan momentum awal tahun ini untuk mengawali sebuah perubahan besar. Insya Allah tak ada usaha yang sia-sia jika kita mau bersungguh-

sungguh dalam meraih apa yang kita cita-citakan. Perubahan yang besar selalu berawal dari hal-hal yang kecil, dimulai dari sekarang dan mulainya pun dari diri sendiri. Wallahu a’lam bishowab

SHOLIKHIN

MAHASISWA

FKIP PENDIDIKAN KIMIA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON (UMC)

Iklan

2 Komentar

  1. rona binham said,

    November 5, 2010 pada 5:25 am

    siiip…

  2. Paradise said,

    Desember 12, 2010 pada 2:22 am

    Pemuda zaman glbalisasi, tlah diperbudak oleh beragam macam teknlgi, informasi, dan komunikasi.
    Sifat yang selalu ingin menang sendiri, dan mgkti kemauan malas dari dlm drinya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: