Reformasi dan NKRI

Reformasi dan NKRI adalah dua kata yang berbeda makna dan yang tidak akan pernah sama sampai kapanpun. Yang sama hanya pada pemahaman yang salah oleh sebagian orang tentang Reformasi dan NKRI. Reformasi punya makna yang luas untuk mencapai sebuah perubahan. Apakah perubahan itu secara damai atau dengan jalan kekerasan. Tapi yang jelas, orang-orang akan ikut-ikutan meneriakkan reformasi tatkala angin reformasi mulai menampakkan hasilnya. Sedangkan NKRI, bila diteriakan demi NKRI maka ada manusia yang tak sadarkan diri hingga berani melukai dan menyakiti kalau dianggap tidak NKRI. Demi NKRI maka yang lain siap untuk di sekolahkan sampai keluar negeri (Begitu istilah orang Aceh).

Kata Reformasi makin bersinar di negeri ini karena dianggap sangat berpengaruh dalam menyingkirkan dinasti Orde Baru Soeharto. Reformasi diteriakkan dimana-mana ketika detik-detik kejatuhan Soeharto. Ia dianggap sebagai senjata pamungkas yang mampu menghipnotis generasi anti Orde Baru. Maka jangan heran setelah Orde Baru jatuh, tikus-tikus semasa Orde Baru mulai memark-up diri menjadi kelinci yang tak berdosa, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu reformasi, maka ia menjadi sulit untuk dikenali.

Ketika Orde Baru masih berkuasa, reformasi hanya riak-riak kecil ditepi pantai tanpa laut. Yang meneriakpun hanya orang-orang yang menjadi korban rezim Orde Baru. Sedangkan orang-orang yang berada di lingkungan Orde Baru menganggap reformasi sebagai mimpi-mimpi orang yang tak mengerti, iri dan tak tahu diri. Mereka masih memuja Orde Baru sebagai Orde yang masih suci yang tak perlu di reformasi.

Tapi setelah Soeharto terhenti, baru muncul orang-orang yang menyulap diri dari tikus menjadi kelinci. Tak segan-segan mengaku tokoh reformasi, pahlawan reformasi dan entah apalagi yang jelas reformis sejati. Tak cukup menyulap diri, mulailah menyulap sekelilingnya. Pagar rumah di pahat dengan huruf reformasi, uang korupsi mulai disumbang untuk kegiatan reformasi, mobil-mobil korupsi mulai di tempel embel-embel reformasi.

Ada lagi yang lebih ngeri, reformasi mulai disalah arti, menjadi pembenar untuk sebuah kekerasan, atas nama reformasi mulai sah menyakiti orang lain, seperti perampokan, pemerasan, penculikan, pencurian dan hal seperti ini mulai halal untuk dilakukan. Pemerkosaan etnis Tionghoa pun merebak kemana-mana. Dengan passwod reformasi, apapun menjadi sah dilakukan.

Yang aneh sampai hari ini, kita masih amburadur menikmati reformasi. Mungkin karena kita salah memahami makna dan tujuan reformasi, kita menyalahgunakan reformasi atau mulai membengkokan tujuan dan arah reformasi untuk kepentingan pribadi, kelompok atau golongan masing-masing. Yang jelas reformasi masih lapis pertama, yaitu menyingkirkan dinasti Orde Baru.

Lain Reformasi lain lagi NKRI. Cukup banyak orang di negeri ini yang memahami NKRI secara sempit dan sesat. Melihat nama tanpa memahami makna dan tujuan yang jelas. Maka pemahamannya tentang makna menjadi sempit. Mengapa sesat? karena NKRI dipuji dan disembah melebihi kitab suci dan Tuhan pemilik Alam. Sehingga kewajiban menegakkan NKRI melebihi kewajiban untuk menegakkan perintah Tuhan.

Maka jangan heran, karena NKRI banyak orang harus mati. manusia yang mengklaim diri satu bangsa, satu bahasa tapi tega menindas saudaranya yang juga satu tanah air. Mengapa? Karena atas nama NKRI, maka satu etnis pun lebih siap untuk dihapuskan, tak ada lagi persaudaraan bila sebagian kita beda pendapat tentang NKRI, bahkan tidak jauh berbeda dengan orang yang sempit memahami agama, beda pendapat, menjadi halal untuk disembelih, berlawanan pemikiran langsung diklaim sebagai kafir hingga apapun dapat dilakukan terhadap orang lain.

NKRI pun ikut diseret mejadi manuver politik ketika pilkada Aceh kemarin dimenangkan oleh Pasangan Irwandi-Nazar yang berlatar belakang GAM. Coba bayangkan ada elite Jakarta yang ceplas-ceplos bahwa kemenangan Irwandi–Nazar sebagai ujian untuk melihat kesetiaan mereka kepada NKRI. Anehkan! Kenapa harus NKRI? Kenapa tidak bilang, itu kesempatan untuk membangkitkan dan memajukan Aceh dibawah Gubernur Baru pilihan Rakyat. Kenapa harus curiaga seperti gaya politik anak TK.

Sama halnya ketika Pancasila dibela mati-matian. Bahkan tidak segan-segan mengklaim diri sebagai pengawal dan pembela Pancasila. Memang tak ada salahnya mengawal dan membela Pancasila, tapi yang salah ketika semangat mengawal dan membela, berlawanan dengan tingkahlaku sehari-hari. Kebiasaan yang dipraktekkan justru menabrak sila-sila Pancasila. Atau lebih tepat sangat bertentangan dengan isi Pancasila itu sendiri.

Di kantor berteriak dan siap berkorban untuk Pancasila, mengajak orang untuk menjadi Pancasilais atau mengklaim diri sebagai pancasilais, Di media massa bersandiwara sebagai pembela Pancasila dan dengan mudah menuding murtad kepada orang lain. Mengklaim diri seperti pendekar suci yang siap mati untuk Pancasila. Tapi yang super lucu karena salah memahami makna sila-sila Pancasila.

Kenapa Salah? Karena klaim mereka hanya retorika dan rekayasa belaka. Sedangkan isi dan makna Sila-sila Pancasila tak pernah dipahami secara universal dan proporsional. Terlalu banyak mengklaim tapi tak pernah mau memahami, apa makna “Ketuhanan Yang Maha Esa” kalau setiap hari memuja-muja selain Tuhan dan tidak jarang melawan aturan-aturan Tuhan. Di mulut bilang Tuhan satu tapi tingkahlaku sehari-hari menganggap Tuhan seperti batu.

Kemanusiaan yang adil dan beradap hanya sebatas tulisan dan hafalan. Karena setiap hari terus menjadi manusia yang tidak adil dan tidak beradab. Sesama manusia sebangsa tega untuk menindas, padahal selalu mengikrarkan slogan-slogan satu bangsa dan satu bahasa serta satu tanah air tercinta. Tapi tangannya setiap hari berlumuran dengan darah-darah saudaranya baik langsung maupun tidak langsung.

Persatuan Indonesia hanya sebatas slogan dan pelengkap pidato kenegaraan. Persatuan hanya sebatas perampokan kekayaan alam di segala sudut daerah. Sedangkan persatuan dalam bidang kesejahteraan bersama hanya dinikmati oleh segelintir elite-elite saja. Yang lain menjadi penonton dan boneka persatuan yang menderita tanpa henti di negerinya sendiri.

Ketika saudara-saudaranya yang di barat dan di timur mulai melawan karena mulai bosan menjadi boneka persatuan. Mulailah kaum-kaum ortodok gelisah dan melancarkan kampanye licik demi untuk persatuan dengan tebar simpati kesegala penjuru. Padahal ketika kelaparan dan penindasan terjadi tak ada suara simpati dan pembelaan yang datang, malah dituduh macam-macam.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan ternyata diolah menjadi sandiwara politik untuk kepentingan masing-masing kelompok yang berkuasa. Jangan heran kalau DPR dimitoskan sebagai perwakilan rakyat tapi ternyata hanya menjadi wilayah perjudian politik yang diwakili oleh mesin-mesin politik yang berkuasa. Rakyat hanya berkuasa pada tingkat pemilihan tapi tak punya kesempatan dan harapan pada saat pengambilan keputusan dan kebijakan.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya menjadi sila penggoda dan penantian harapan yang berkepanjangan. Keadilan hanya goresan tinta dalam kitab Undang-undang yang dipoles dengan Pasal-pasal manisan yang selalu berpihak kepada orang besar dan menginjak orang-orang kecil. Lembaga Peradilan tidak lagi menjadi tempat untuk mencari keadilan. Tapi menjadi pangkalan negosiasi perkara dari kejahatan menjadi pemutihan oleh mereka yang punya kantong tebal.

Kapan kita maju? Kapan kita menjadi raksasa di Asia tenggara. Bila dalam negara masih ada ketidakadilan dan penjajahan gaya baru. Jangan mimpi sebuah perubahan jika kendali kekuasaan masih ditangan manusia-manusia korup dan kotor. Karena kemajuan itu hanya dapat di capai bila semua kendali kekuasaan berada di tangan orang-orang bersih dan suci. Sebanyak apapun uang tapi kalau orang-orang korup yang memegang kekuasaan maka pembangunan tidak akan berjalan dengan baik.

Negeri ini terlalu banyak pencuri, pencuri-pencuri itu sudah hidup terun temurun, teratur dan terkumpul dalam kelompok-kelompok yang berbeda misi dan ideologi. Punya cabang di daerah dan punya pimpinan di Pusat. Yang berbeda karena para pencuri-pencuri ini selalu tampil rapi dan berwibawa dengan raut wajah yang pandai bersandiwara dari pada pencuri biasanya. Mereka pencuri terhormat karena berada tempat dan ruang yang juga terhormat.

Setiap hari dan setiap tempat berteriak untuk rakyat dan bangsa. Rakyat mulai dikunjungi ketika waktu Pemilu mendekati. Saat itulah rakyat dipuji dan di sayangi dengan berbagai pertunjukan sandiwara yang dilakoni langsung oleh mereka. Padahal rakyat sudah tahu itu semua untuk kekuasaannya masing-masing, tapi apa hendak di kata karena semuanya sama.

Ketika kekuasaan sudah di peroleh maka mulailah membuat ruang pemisah untuk rakyat dengan berbagai alasan. Rakyat dirayu dan dipakai ketika suksesi untuk kekuasaan, setelah itu selamat tinggal. Bagi rakyat, penderitaan sudah menjadi kebiasaan, yang tersisa hanya embel-embel sandiwara yang sudah direkayasa. Harapan hanya mengharap lewat waktu yang tak tahu kenyataannya.

Bagi yang tidak memperoleh kekuasaan, kekecewaan mulai dirakit dengan politik manuver yang cerdik dan licik. Rudal-rudal politik dikendalikan dengan baik pada waktu dan suasana yang tepat. Serangan akan diarahkan ke sasaran kelemahan Pemerintah yang berkuasa. Kadang-kadang merekayasa demontrasi dan menciptakan kerusuhan yang didanai untuk tujuan politik dan kekuasaan. Tak peduli kepada rakyat yang menjadi tumbalnya.

Padahal John Locke pernah bertanya,”Kenapa manusia yang tahu mana yang baik tapi masih mau melakukan kejahatan”. Kenapa, ya? Mungkin karena kejahatan itu keenakan dan ketagihan, seperti kejahatan pembalakan liar, korupsi, manipulasi, mark-up setiap ada proyek dan menjadi preman di peradilan. Karena semua itu membuat pelakunya kaya mendadak tanpa perlu kerja keras untuk mengumpulkan harta selama bertahun-tahun. Atau orang seperti itu, tubuhnya sudah setengah manusia dan setengah lagi binatang atau syetan. Masuk akal gak?.

Beginilah Reformasi dan NKRI, reformasi masih setengah jadi. Jika di sana ada kepentingan maka cepat sekali angin reformasi di hembusi. Tapi bila tidak ada kepentingan sama sekali, semuanya diam tanpa reaksi. Begitu juga dengan NKRI, karena ada kepentingan yang dinikmati maka dibela dengan teriakan siap mati. Sangat aneh permainan politik di negeri ini, harapan rakyat seperti mimpi yang tak pasti. Tapi masih setia menunggu dari waktu ke waktu. Kapan Reformasi sejati dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang adil dapat di nikmati dengan tenang dan sejahtera. Apakah itu tetap seperti mimpi. Kita tunggu!***

Iklan

1 Komentar

  1. Carilagump3 said,

    Juni 7, 2010 pada 7:08 am

    Tulisan yang bagus… thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: